24 Maret 2010, membangunkannya pagi hari ini untuk memulai harinya.
Saya melihat 2 kertas tertempel agak miring-miring di dinding sisi tempat tidurnya. Gambaran ibunya sekali, mirang miring gak penting, yang mahal kan isinya
Dia masih belum terbangun, saya membacanya. Ya Allah, banggaaa banget dia nulis 10 impian terbesar yang akan dicapainya. Dengan judul ” Ten Big Dream “ tanpa (s), kurang s-nya sayang tapi ga apa-apa ini pasti ditulisnya malam banget sebelum pergi tidur karena kemarin belum ada.
Ditulisnya dengan sederhana, tulisan tangan dan pena.

Dan tumpukan kertas-kertas, pulpen dan selotip masih berantakan di dekat bantalnya. Terkesima dan pengen nangis …. hallah… sok melancoly hihi tapi beneran deh, sebagai ibunya ada rasa haruuu ….
Anak belajar dari lingkungannya. Dia berkembang dengan banyak hal dilihat dan dipelajarinya. Ingat 2 hari yang lalu dia bercerita seorang tokoh, yang sukses mencapai impian-impiannya satu demi satu dari kondisi mustahil. Ditulisnya di dinding semua keinginannya dan tercapai satu demi satu dengan melihat dan mengingat dreams-nya setiap hari dan tergerak untuk bekerja giat mencapainya.
Saya yakin dia terinspirasi oleh sang tokoh. Dan dia belajar mengenal hukum low of attraction dengan sendirinya secara perlahan….
Anak belajar dari lingkungannya …
Menekuni bisnis yang mengajari saya berani membuat target, berani punya mau dan tentu berani lelah karenanya. Ahhh.. gapapalah sebut IMPIAN ya ? Soalnya ga banyak orang ‘ngeh kalo bicara IMPIAN. Kayak orang aneh katanya.. Dan saya kecilpun tidak pernah mengenal impian kok, karena tidak terbiasa dengan kata ajaib itu walaupun sebenarnya menjalaninya.
Kini karena kebutuhan bisnis, terbiasa mendengar kaset motivasi seperti dari pak Andre Wongso, Marketing pak Tung Desem Waringan yang bisnis sekali, pencerahan Gede Prama. Dan dia ikutan mendengarnya. Pengaruh ada banget pasti, bisa jadi dia belajar bahwa hidup harus jelas punya titik tujuannya
Anak belajar dari lingkungannya dan saya pun ikut terinspirasi bahwa anak bukan untuk diajari begini begitu tapi dia butuh contoh nyata. Mustinya saya tidak perlu bilang harus prihatin dan mau bekerja keras, cukup toh berkomitmen dengan kerja dan buktikan pencapaian-pencapaian yang memang sudah jelas dibuat targetnya. Jadi malu ati sendiri :p
Dan hari ini dia telah menempel di dindingnya, Ten BIG DREAMS …
Bagaimana dengan ibunya ? Lihat saja



Suara Komentator