Sabtu 20 Maret 2010
Beres menghandle acara Big Event Maret dBC Network Jakarta, seseorang menghampiri saya dan langsung protes.
” Mbak, event besar kayak gini kok diadain disini sih ….bla..bla… “ * sensor *
” Trus itu juga Bistro kenapa disana sih sekarang … bla…bla… “ *sensor *
…. ngomel nih yeeee :p
Blom lagi protesnya, katanya SMS-nya gak pernah saya balas lagi xixixixi
Coool diomelin cucu donlen : ” Masa sih ? Salah ngirim kali jeng “ he..he…
==
Saya mau sedikit cerita tentang PARADIGMA dengan prolog aksi protes sang cucu tercinta di atas. Makasih ya cuuu atas inspirasinya
Kesannya berat dan serius bener sih judulnya …. Padahal enggak kok tenang aja, disini orangnya jarang seriusan kecuali hal-hal tertentu :p
Pernah membaca sebuah buku di dalamnya ada cerita bagaimana sebuah informasi yang tepat telah merubah paradigma banyak orang yang tadinya A menjadi tiba-tiba Z. Sebabnya hanya soal INFORMASI yang tepat saja kok.
Alkisah…
Dalam sebuah kereta executive Jogja – Jakarta di gerbong bernomor 9. Ketenangan penumpang kereta kelas eksekutif itu agak terganggu oleh ulah seorang anak laki-laki berusia sekitar 7 tahunan. Berisik, lari sana lari sini, minta ini minta itu sampai si ayah kewalahan menghadapinya. Terus menggangu, para penumpang mulai gusar dengan kenakalan si anak.
Seorang ibu hamil membatin : ” Amit-amit jabang bayiiiiii…. semga anakkua engga kayak begini “
Seorang kakek mamanjatkan doa agar cucu laki-lakinya tidak menjadi nakal seperti anak itu.
Seorang anak muda mengumpat karena bacaannya terlempar sebab si anak berlarian dan tangannya menyentuh buku bacaan si pemuda.
Rata-rata penumpang membenci ulah si anak sampai si ayah merasa tidak enak hati.
Lalu sang ayah berdiri dengan penuh hormat dan berkata pada semua penumpang dalam gerbong 9 itu.
” Bapak ibu sekalian, saya mohon maaf atas kenakalan putra saya. Mohon pengertiannya, dia menjadi begini keadaannya setelah seminggu yang lalu ibunya meninggal dunia dengan tragis dan begitu mendadak. Dia sedang betul-betul merasa kehilangan. Saya berusaha mengembalikan emosinya dengan membawanya ke Jakarta, berharap anak ini bisa segera melupakan kesedihan ditinggal ibunya “
Dengan mata berkaca, si ayah duduk kembali dan berusaha menarik anaknya untuk duduk tenang di sebelahnya.
Sebuah INFORMASI yang sebenarnya, telah disampaikan. Dan apa yang terjadi ?
Dari umpatan-umpatan tak suka pada si anak, kini keadaan di gerbong 9 berubah drastis. Si ibu hamil mengeluarkan permen kojek, tersenyum pada anak itu dan membujuknya untuk duduk sebelahnya dan menerima permen darinya.
Si kakek dengan trenyuh memeluknya.
Sang anak muda dengan wajah keras awalnya ketika bukunya terlempar, menitikkan airmata karena ternyata dia pernah merasakan kehilangan yang begitu mendalam ketika ibundanya pergi.
Hingga kereta tiba di stasiun tujuan, perpisahan haru dengan anak yang sebenarnya sama sekali tidak ada hubungan apa-apa dengan para penumpang, terasa seperti saudara dekat yang saling bisa memahami kesedihan.
Informasi yang tepat, merubah paradigma. Segalanya akan menjadi berubah dalam sekejab.
==
Sama seperti saya kena omelan saat bertemu langsung pada prolog di atas.
Ketika tau cerita di balik penyelenggaraan event yang “sangat disayangkan” membludak tapi kenapa disana itu, mampu merubah penilaian yang tadinya seolah tim penyelenggara sangat terkesan tidak profesional, , tau-taunya bisa berubah ucapan Two Thumbs Up for team
==
Sama seperti anda yang tidak sama sekali tau dengan dalam bisnis apa yang kami lakukan, maklum kok kalau menilainya negatip entah dari sisi mana anda menilai. Yang berbeda dari anda dengan saya adalah, paradigma saya sudah berisi informasi-informasi yang tepat tentang bisnis ini sehingga sayapun yang tadinya ada di paradigma A tentang bisnis ini kini telah ada di Z.
Tidak ada yang salah dengan sebuah paradigma apapun itu, selama kita percaya informasi yang kita terima adalah informasi yang paling tepat untuk kita.
Hanya sajaaa…
Berhati-hatilah dalam memberi penilaian. Bijaksana dalam menilai dan mengambil kesimpulan. Taelaaahhh ehem…ehem… ini nulis maksudnya buat kaca diri sendiri :p
Kadang pun suka salah menilai, harus mau terus mencari kebenaran hehehe..


Suara Komentator