Karena 2 buah alasan, saya terfikir untuk membaca ulang buku Gede Prama yang berjudul “Simfoni di Dalam Diri “ – Mengolah Kemarahan Menjadi Kesejukan subuh dinihari ini. Alasan pertama tentu karena sebuah alasan kuat butuh pencerahan dari buku beliau ini yang sekilas dulu saya membacanya sungguh membawa kesejukan. Alasan kedua, ya karena memang belum selesai semua bab saya baca :-p
Jarang ada yang tidak mengenal seorang Gede Prama. Pria asal Bali yang dalam setiap untaian katanya penuh kesejukan karena terbiasa bersahabat dengan alam sejak kecilnya, dan menjadi lebih kaya dengan jatuh bangunnya di dunia koorperasi menjadikan pemahaman mendalam dalam kehidupan beliau dan menghasilkan banyak buku yang mengukir banyak makna. Dan saya salah satu penyuka makna dari dalam bukunya.
Dalam buku “Simfoni di Dalam Diri “ – Mengolah Kemarahan Menjadi Keteduhan rasa-rasanya adalah salah satu sumber terbaik untuk saya baca kali ini selain tentu menyerahkannya kepada yang di-Atas sana lalu berkata : “ Ya sudahlah “
I wish… I wish… bla…..bla…. hehehe
Entah untuk yang keberapa kali saya mencerna BAB yang berjudul Mengolah Sampah Kehidupan. Itu sebabnya mungkin buku ini tergolong paling lama saya selesaikan hiks…. kebanyakan diulangnya sih.
Ada yang mengeluh hidup ini katanya serba salah. Baca koran bikin marah. Mendengar opini orang membuat kepala terbakar amarah. Mendengar orang berlaku demikian, protes enggak suka jadi merasa gerah sendiri. Semuanya jadi mudah sekali terbakar. Jangankan dunia politik katanya, dimana kekuasaan dan uang yang terlalu sering memjadi bibit ‘kebakaran’, Agama pun yang lahir dan tumbuh dalam kesejukan seharusnya, di berbagai belahan dunia menjadi sumber kemarahan.
Pengandaian jiwa manusia seperti boneka telanjang (baca : bersih, jernih). Dalam perjalanan kehidupan kita mengenakan banyak baju (baca : keinginan, kemauan, cita-cita) ke tubuh boneka ini. Akhirnya banyak yang menjadi ketakutan akibat boneka berbaju warna-warni ini. Ketakutan kalah dibanding orang lain, takut gagal atau tidak sukses bisnis online (hahaaha ini hanya pengembangan pemahaman ya..), takut tidak dihargai dan berjuta efek takut lainnya..
Lingkungan luar yang membara, bercampur bensin kehidupan di dalam diri (baca: ketakutan) alhasil memang benar-benar menjadi mudah terbakar. Lingkungan memang sebuah ketakutan yang tidak bisa kita ubah. Namun ketakutan di dalam diri, bisa diubah dengan ketekunan latihan. Itu sebabnya sebuah jiwa yang sejuk, dia tidak bernafsu mengubah lingkungannya, namun dia begitu giatnya mengubah bensin di dalam dirinya yang mudah terbakar menjadi air yang sejuk.
Advestha sarva bhutama = Jangan pernah membenci dan menyakiti adalah pesan Khrisna di bagian awal Bhagawad Gita. Dan yang dipilih Khrisna untuk menerima pesan ini adalah Arjuna yang artinya purity of heart (hati yang suci), bukan Bima yang jagoan berkelahi, bukan pula Yudhistira yang terpancing berjudi.
Di sebuah desa Bali tua, kalau ada orang yang sabar akan disebut buih dharma gati (betapa dharmanya dia). Seperti menyampaikan pesan pada kita, keindahan dan kebenaran bisa dicapai dengan KESABARAN.
Ketika kita belajar bersabar dan mendengar, kita tidak saja membuat orang lain bahagia, tapi kita juga sedang membuka lapisan-lapisan diri ini lebih MULIA.
Semua manusia pasti ingin bahagia. Namun karena ketidaktahuan, keserakahan, kemarahan dan kebenciannya secara tidak sengaja sedang mengarahkan diri menjauh dari kebahagiaan.
Seperti cuaca, lingkungan juga tidak bisa diubah. Namun manusia bisa belajar, berlatih bagaimana merespon kehidupan. Cara merespon inilah yang akhirnya akan membawa manusia pada 2 pilihan, menderita atau menjadikan dia bahagia.
Kesimpulannya, pandai-pandai merespon apa yang tersaji di depan kita aja kalle